Jumat, 13 Januari 2012

Tembang Iler-Iler

Tembang iler iler adalah salah satu tembang yang menurut orang tua dahulu ditulis oleh Kanjeng Sunan Bonang. Tetapi ada juga yang menyebutkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam.
Lepas dari semua itu disini aku menuliskan ini untuk mencoba mengartikan secara bebas makna yang terkandung di syair tembang iler-iler tersebut.



Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure wus sumilir

(BI) Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi

(MS) Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.


Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar

(BI) Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru

( MS) Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya.


Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi

(BI) Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.

(MS) Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun Islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu.


Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira

(BI) Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu.

(MS) Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet. Dengan kalimat ini Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa.


Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir

(BI) Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek

(MS) Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.


Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore

(BI) Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gustimu) nanti sore

(MS) Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.


Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane

(BI) Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang

(MS) Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu.


Ya suraka, surak hiya

(BI) Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA

(MS) Di saatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragamanya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.

Artikel Terkait



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar